KOHATI Sebagai Role Model Gerakan Perempuan?

- Jurnalis

Minggu, 17 September 2023

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Aliya
Wasekum Bidang Eksternal Kohati HMI Kom. Lancaran, Guluk-Guluk, Sumenep.

Sejak dibentuknya Korps HMI-Wati (KOHATI) sebagai lembaga semi otonom Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) pada tanggal 17 September 1966 di Kongres HMI ke-VIII di Solo, maka signifikansi peran perempuan dalam organisasi dapat dilihat sejak saat itu. Perhatian HMI terhadap potensi dan peran penting yang dimiliki perempuan direalisasikan melalui hal tersebut.

Kohati dibentuk khusus untuk mewadahi perempuan yang tergabung dalam HMI, tentu hal ini dilandasi oleh catatan historis yang mengiringinya serta kesadaran penuh bahwa sejak dulu kala perempuan selalu dianggap sebagai rumah pendidikan bagi anak dan keluarga – terlepas dari beberapa isu ketidak-adilan gender yang mengakar.

Meskipun semakin ke sini emansipasi wanita bukan lagi topik yang hangat untuk dibahas karena kondisi sosial yang mulai maju mengikuti peradaban, namun Kohati tetap eksis dan konsisten menjadi pembina pemudi bangsa dengan membawa nilai-nilai independensinya.

Baca juga :  Resolusi 2025: Menjaga Keseimbangan

Dari itu, dalam setiap perguruan tinggi dan sosial masyarakat, Kohati mampu memunculkan output perempuan yang membangun dan menguatkan kebudayaan serta menjadi kontrol sosial politik masyarakat dalam dinamika sosial sebagai bentuk akselerasi dalam mencapai tujuan-tujuan HMI.

Pada hari ini, 17 September 2023, tercatat sudah 57 Tahun Kohati berdiri menjadi wadah bagi para mahasiswi berproses menjadi muslimah berkualitas insan cita. Dalam setengah abad lamanya, banyak pencapaian Kohati dari masa ke masa yang tentu tidak lepas dari tujuan besar HMI;

“Terbinanya insan akademis, pencipta, pengabdi yang bernafaskan Islam, dan bertangung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah SWT.” (Pasal 4 AD HMI).

Maka dari itu, membina kader, meningkatkan kualitas perempuan yang kompeten dan mampu bersaing di ranah eksternal harus tetap menjadi prioritas sebagai bentuk refleksi tujuan dasar Kohati.

Perkariban Kohati dan Mahasiswa

Baca juga :  Ketika Dunia Tengah Porak-Poranda, Kita Di Mana?

Sebagai organisasi perjuangan yang mewadahi mahasiswa, Kohati dan mahasiswa memiliki keterikatan yang fundamental. Hal ini tidak lepas dari kesamaan keduanya sebagai salah satu komponen masyarakat terpelajar.

Tidak hanya cakap dan fokus pada pemberdayaan perempuan, namun secara bertahap Kohati mampu mewariskan tradisi intelektual yang kritis di kalangan mahasiswa dengan ciri khasnya yang independen.

Pola-pola tersebut tentunya tidak lahir begitu saja, akan tetapi diawali oleh kegiatan pembinaan kader yang dialektis, kritikal, dan terbuka serta dilakukan secara konsisten juga tabah seperti yang tercantum dalam Mars Kohati.

Selain itu, dalam pergulatan ambiguitas mahasiswa untuk bergabung dengan ORMEK tertentu, nilai-nilai keagamaan sering menjadi pertimbangan yang signifikan, maka Kohati berperan sebagai penetralisir dengan membawa atmosfer intelektualisme yang dipadukan dengan spritualisme, sebab Kohati memiliki prioritas output muslimah insan cita seperti yang sudah diterangkan di muka.

Relevansi Kohati dengan Cita-cita Pembangunan Bangsa

Dalam konteks Indonesia klasik ataupun modern, HMI dan KOHATI sebagai gerakan moral force mempunyai rasa kontrol (sense of control) yang otentik, berada di garda terdepan dalam proses dinamika perubahan sosial dan politik yang ada di masyarakat, baik skala regional, nasional bahkan internasional.

Baca juga :  Cinta Bukan Pada Tempatnya

Lebih khusus, dengan tugas pokok menjadi pembina, pendidik dan menyuarakan hak perempuan, Kohati selalu mengambil peran dalam wacana kesetaraan gender kaum perempuan untuk memperoleh kesempatan dan hak-haknya sebagai manusia.

Kohati harus mampu berperan dalam agenda-agenda edukatif, politik, ekonomi, sosial budaya, pertahanan dan keamanan nasional, serta kesamaan dalam menikmati hasil pembangunan tersebut tanpa memandang gender.

Kohati menyadari bahwa kesetaraan gender akan memperkuat kemampuan negara untuk berkembang dan memerintah secara efektif. Jadi, selain memenuhi kewajibannya sebagai mahasiswa, Kohati juga ikut aktif mewujudkan masyarakat madani berkeadilan gender sebagai salah satu goals dari program pemerintah yaitu Sustainable Development Goals (SDGs). (*)

Berita Terkait

Cukup Engkau Saja
Sahur Kebijakan Publik
Uncle Sam, Cobalah Mengerti
Puasa Bukan Tekanan: Seni Mengajarkan Ramadhan Pada Anak
Menahan Lapar Kekuasaan
Control Freak dan Harakiri Kebudayaan
Ramadhan: Dari Ritual Menuju Transformasi Otentik
Antrean Digital Amburadul, Ironi “War” Penukaran Uang Baru Jelang Lebaran

Berita Terkait

Jumat, 13 Maret 2026 - 04:16 WIB

Cukup Engkau Saja

Rabu, 11 Maret 2026 - 12:32 WIB

Sahur Kebijakan Publik

Jumat, 6 Maret 2026 - 01:28 WIB

Uncle Sam, Cobalah Mengerti

Senin, 2 Maret 2026 - 03:31 WIB

Puasa Bukan Tekanan: Seni Mengajarkan Ramadhan Pada Anak

Jumat, 27 Februari 2026 - 07:12 WIB

Menahan Lapar Kekuasaan

Berita Terbaru

Pegawai BKPSDM Pamekasan berada di meja resipsionis. (ISTIMEWA)

Pamekasan

Jelang Nyepi dan Lebaran, ASN Pamekasan Mulai WFH

Senin, 16 Mar 2026 - 11:37 WIB