Pemberdayaan Remaja Melalui Inovasi BISAN (Bincang Santai) dalam Upaya Pencegahan Pernikahan Anak di Kabupaten Sumenep

Avatar

- Wartawan

Minggu, 16 Juni 2024 - 09:44 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh : Romhana Alifah

Mahasiswa Magister Kebidanan Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta

  • Pembimbing Pedidikan : Dr. Ismarwati, MH.Kes
  • Pembimbing Lahan : Hj. Arafah, S.Ag

PERNIKAHAN anak merupakan fenomena sosial yang kompleks dan sering terjadi di kalangan masyarakat pedesaan. Pernikahan anak masih menjadi masalah yang serius hingga saat ini.

Dibutuhkan kerjasama berbagai pihak untuk mencegah terjadinya pernikahan anak. Menurut UU Nomor 16 Tahun 2019 tentang Perkawinan disebutkan bahwa, batasan usia menikah anak laki-laki adalah 19 tahun dan anak perempuan 16 tahun.

Batas usia yang dimaksud dianggap cukup matang secara mental dan fisik untuk melangsungkan pernikahan dengan tujuan mewujudkan pernikahan tanpa perceraian dan menghasilkan keturunan yang sehat dan berkualitas.

Remaja sebagai objek pernikahan anak haruslah diberdaya agar bisa memberikan pemahaman kepada orang tua / orang dewasa tentang dampak negatif pernikahan yang dilakukan di usia dini.

Remaja adalah satu fase penting dalam kehidupan manusia merupakan tahap transisi dari masa kanak-kanak ke masa dewasa. Akibatnya, perkembangan mental berkembang dengan cepat dan sangat signifikan baik secara langsung maupun secara jangka panjang selama masa remaja terutama pada awal remaja.

Semua perubahan ini memerlukan perubahan mental dan pembentukan minat, sikap, dan prinsip baru. Ada tantangan yang terkait dengan setiap fase perkembangan, tetapi masalah yang muncul selama masa remaja seringkali menjadi tantangan yang sulit diatasi baik oleh anak laki-laki maupun anak perempuan.

BACA JUGA :  Optimalkan Profil Pelajar Pancasila, Disdikbud Pamekasan Gelar Festival Al-Quran

Banyak remaja akhirnya menemukan bahwa penyelesaian tidak selalu sesuai dengan harapan mereka karena mereka tidak dapat mengatasi masalah mereka sendiri dengan cara yang mereka pikirkan sehingga perlu untuk dilakukan pendekatan – pendekatan sesuai kebutuhan masa remaja.

Kasus pernikahan anak yang masih relatif tinggi bisa dilihat di Kantor Urusan Agama (KUA) jumlah pernikahan anak pada tahun 2023 sebanyak 344 Perempuan dan 84 Laki – laki.

Sementara, Pengadilan Agama menyebutkan angka dispensiasi nikah (DISKA) pada tahun 2023 sebanyak 270, belum termasuk yang pernikahannya tidak tercatat karena alasan tertentu. Hal ini menguatkan tingginya angka pernikahan anak yang terjadi di Kabupaten Sumenep.

Inovasi BISAN (Bincang Santai) merupakan suatu pemberdayan pada remaja bekerjasama dengan Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah Sumenep yang nantinya dapat dimasukkan pada program BIKKSA (Biro Informasi Konsultasi Keluarga Sakinah ‘Aisyiyah).

Tujuannya, untuk menggali keinginan anak remaja dalam menata masa depan, menemukan permasalahan – permasalahan masa remaja yang mengarah pada pernikahan dini, serta menumbuhkan daya saing untuk berprestasi agar terhindar dari pernikahan dini.

BACA JUGA :  SMAN 1 Pamekasan Gelar Lepas Pisah, Kepsek Doakan 362 Lulusan Sukses

Metode yang digunakan dalam inovasi BISAN ini adalah Forum Group Discussion (FGD) dan wawancara mendalam (Deep Interview). Ketika ditemukan masalah dilakukan intervensi dengan pendampingan hingga menemukan solusi.

Diharapkan inovasi BISAN bisa dilakukan oleh siapa saja, komunitas apa saja, di daerah perkotaan hingga pelosok desa. Mendekati remaja dengan keakraban berharap mereka dapat menceritakan permasalahannya, tidak bingung harus berkonsultasi kemana. Inovator dapat mengarahkan sesuai prosuder yang dibutuhkan dan mendapatkan solusi yang sesuai.

Inovasi BISAN diluncurkan pertama kali di SMA Muhammadiyah Sumenep pada hari Jum’at, 14 Juni 2024 dengan merangkul peserta 20 orang, perbincangan terjadi dengan santai dan akrab. Para remaja mengungkapkan kondisi sosial terkait pernikahan anak di daerah masing – masing.

Mereka juga mengemukakan pendapat – pendapat, ide dan gagasan yang perlu dilakukan oleh stakeholder setelah mengungkapkan perasaan mereka yang rata – rata tidak mau terjebak dalam tradisi pernikahan dini.

Mereka ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, mewujudkan cita – cita untuk menjadi sukses dan membahagiakan orang tua dengan mengurangi beban hidup orang tua. (*)

Berita Terkait

Rektor IAIN Madura Berharap KKN Kolaboratif Antar Perguruan Tinggi Jadi Kekuatan Kemajuan Madura
63 Santri TK Muslimat NU Pamekasan Diwisuda, Diharapkan Mengenyam Pendidikan Tinggi hingga Bergelar Doktor  
IAIN Madura Buka Pendaftaran SPMB Jalur Mandiri Reguler, Siapkan 500 Kuota Calon Mahasiswa Baru
SDI Al Munawwarah Pamekasan Mewisuda 115 Siswa, 61 Di Antaranya Penghafal Al-Quran
Kepala SDN Taddan 2 Sampang Akui Pinjamkan Uang Tabungan Siswa Ratusan Juta ke Perusahaan Travel Haji dan Umrah  
Luar Biasa!! 7 Siswa SD Plus Nurul Hikmah Borong Juara Olimpiade Tingkat Nasional
Tabungan Siswa SDN Taddan 2 Sampang Senilai Rp 494 Juta Belum Dibagikan, Diduga Dititip ke Perusahaan Travel Umrah
Pelantikan sekaligus Santunan Anak Yatim The Basco Berlangsung Khidmat

Berita Terkait

Minggu, 30 Juni 2024 - 18:54 WIB

Rektor IAIN Madura Berharap KKN Kolaboratif Antar Perguruan Tinggi Jadi Kekuatan Kemajuan Madura

Minggu, 30 Juni 2024 - 18:33 WIB

63 Santri TK Muslimat NU Pamekasan Diwisuda, Diharapkan Mengenyam Pendidikan Tinggi hingga Bergelar Doktor  

Kamis, 27 Juni 2024 - 08:42 WIB

IAIN Madura Buka Pendaftaran SPMB Jalur Mandiri Reguler, Siapkan 500 Kuota Calon Mahasiswa Baru

Selasa, 25 Juni 2024 - 16:49 WIB

SDI Al Munawwarah Pamekasan Mewisuda 115 Siswa, 61 Di Antaranya Penghafal Al-Quran

Senin, 24 Juni 2024 - 15:11 WIB

Kepala SDN Taddan 2 Sampang Akui Pinjamkan Uang Tabungan Siswa Ratusan Juta ke Perusahaan Travel Haji dan Umrah  

Berita Terbaru